6 Mei 2013

Gedung Sekolah Jepang Yang Terlantar

Di Jepang, kita bisa melihat gedung-gedung sekolah yang terbengkalai. Salah satu alasannya adalah karena jumlah anak-anak Jepang yang sudah semakin hari semakin sedikit sehingga pihak sekolah pun terpaksa menutup kegiatannya, terutama yang lokasinya di pedesaan.

Tapi anehnya, gedung-gedung tersebut tidak terlihat begitu kotor setelah ditinggal begitu lama....

Gedung Sekolah Jepang Yang Terlantar

Gedung Sekolah Jepang Yang Terlantar

Gedung Sekolah Jepang Yang Terlantar

Gedung Sekolah Jepang Yang Terlantar

5 Mei 2013

[Video] Iklan Doraemon

Rasanya agak aneh kalau membayangkan negara-negara Eropa berusaha untuk 'menjual' citra anime Jepang (mungkin karena kita sudah nyaman mendengar bahasa Jepang kali ya?). Berikut adalah video iklan Doraemon di Spanyol...



Video Iklan Doraemon

Sedangkan yang berikut ini adalah video iklan Jepang yang menampilkan Nobita setelah dia berumur 30 tahun...



3 Mei 2013

Tradisi Makan Sushi Di Jepang Sudah Berubah

"Kaitenzushi", restoran yang menyediakan hidangan sushi mereka di atas ban berjalan (conveyor belt) adalah salah satu kontribusi Jepang yang paling terkenal terhadap dunia wisata kuliner. Konsepnya sederhana: para konsumen duduk mengitari ban yang berputar kemudian mengambil menu yang mereka inginkan dari meja yang penuh dengan sushi.

Tapi sekarang ada sebuah tren baru di Jepang yang sepertinya akan mengancam sistem ban berjalan tradisional. Para konsumen disana sudah tidak begitu tertarik lagi untuk mengambil piring mereka dari meja yang berputar. Jadi sekarang, conveyor belt hanya digunakan sebagai tampilan menu makanan biasa. Para konsumen akan memilih makanan yang mereka inginkan dari piring-piring kecil di atas ban berjalan tersebut, kemudian baru memesannya kepada pelayan.

Budaya Makan Sushi Di Jepang Sudah Berubah

Aneh? Yup. Tren baru tersebut nampaknya dipengaruhi oleh sistem pemesanan melalui touch panel (layar sentuh) yang sekarang sudah digunakan di banyak restoran kaitenzushi. Touch panel yang diaplikasikan di bilik hidangan memberikan kebebasan bagi konsumen untuk menggulir halaman demi halaman di menu sushi yang tersedia.

Salah satu keunggulan dari sistem ini adalah pesanan yang dibuat oleh para konsumen akan langsung ditujukan kepada sang koki, sehingga meminimalisir waktu yang dibutuhkan hidangan untuk bisa sampai ke meja makan.

Perubahan terhadap tradisi kaitenzushi yang berumur hampir 60 tahun ini sudah mempengaruhi seluruh restoran sushi ber-conveyor di Jepang. Di kota dimana kepuasan konsumen adalah sesuatu yang diutamakan, para pemilik bisnis yang tidak menyediakan sistem touch panel ini pun berusaha berakomodasi dengan sistem kerja yang sama dengan touch panel - hanya saja tanpa touch panel itu sendiri. Dengan kata lain, mereka yang ingin menyantap makanan yang berputar di atas conveyor belt tinggal memesan pilihan mereka kepada pelayan dan menunggu makanan itu dihidangkan.

Budaya Makan Sushi Di Jepang Sudah Berubah

Maruha Nichiro Corp, sebuah perusahaan seafood di Jepang, mengonfirmasi perubahan yang signifikan ini setelah melakukan survei terhadap 1000 warga Tokyo. Para responden adalah mereka yang mengunjungi restoran-restoran sushi sekali dalam sebulan atau lebih. Sebanyak 38.9% menyatakan mereka masih setia terhadap sistem conveyor belt tradisional, sedangkan sisanya mengatakan bahwa mereka sudah terbiasa memesan menu makanan dari pelayan.

Tidak ada yang tahu bagaimana nasib kaitenzushi di masa depan. Sebagian restoran di Jepang bahkan sudah membuang conveyor belt mereka dan menggantinya dengan touch panel, memungkinkan para konsumen untuk menerima hidangan mereka ala 'fresh-from-oven', alih-alih mengambil sushi yang sudah terpajang entah berapa lama di atas meja yang berputar, meskipun dengan begitu mereka bisa langsung menyantap makanan pilihan mereka.

7 April 2013

Pagelaran akbar bagi para produsen anime yang berhasil menyedot lebih dari 100.000 pengunjung baru saja selesai diselenggarakan di Tokyo. Sekarang, mari kita simak para penjaga stand yang berusaha menarik para pengunjung dengan aksi cosplay mereka...

Cosplay Tokyo International Anime Fair 2013

Cosplay Tokyo International Anime Fair 2013

Cosplay Tokyo International Anime Fair 2013

Cosplay Tokyo International Anime Fair 2013

Cosplay Tokyo International Anime Fair 2013

5 April 2013

Apa Jepang Mau Menerima Bollywood?

Pada akhir tahun 90-an, ada satu bintang film India yang populer di Jepang bernama Rajinikanth. Dia terkenal berkat filmnya 'Muthu, The Dancing Maharaja' (ムトゥ 踊るマハラジャ) yang berhasil meraih pendapatan sebesar ¥200 juta di bioskop-bioskop Jepang pada tahun 1998.

Film tersebut penuh dengan campuran aksi, komedi, melodrama romantis, dan tentu saja, musik India.

Dari situ, film-film India mulai memudar pesonanya. Tidak ada lagi yang istimewa. Avtar Panesar, wakil presiden Yash Raj Films, mengatakan bahwa studionya akan kembali membawa banyak film-film India masuk ke Jepang karena negeri sakura tersebut dianggap sebagai pasar yang sangat menguntungkan dalam waktu singkat. Artinya, popularitas sebuah film bisa cepat naik sehingga bisa ambil untung secara cepat.

Avtar mengatakan bahwa mereka akan meluncurkan empat film dalam beberapa bulan ke depan, termasuk 'Tha Ek Tiger' dan 'Three Idiots' untuk melunakkan pasar Jepang. Jika minat para penonton Jepang terhadap Bollywood ternyata lebih dari sekedar iseng menghabiskan waktu, Yash Raj Films akan membuat film di Jepang.

Film Bollywood: Three Idiots

Jadi, apakah Jepang mau menerima kehadiran Bollywood?

Mungkin kita tidak perlu jauh-jauh memikirnya, aku rasa Indonesia pun sulit menerima kehadiran Bollywood. Film-film India memang banyak diputar di televisi, tapi sangat jarang yang meledak di industri sinema kita.

Mungkin salah satu kekurangan film India adalah... banyak jogetnya. Kalau lihat ada taman, joget. Kalau ada tiang atau pohon, joget. Kalau hujan, joget.

Dan banyak film India yang hanya menjual mimpi jadi orang kaya, sama seperti sinetron Indonesia yang tidak pernah aku nonton. Meskipun begitu, ada juga yang layak diacungi jempol. Misalnya saja 'Life of Pi' (buatan Hollywood) dan 'Three Idiots' yang menceritakan tentang kehidupan manusia dan mempunyai pesan moral yang dalam.

Tahukah kamu? 'Three Idiots' adalah film terlaris dalam sepanjang sejarah Bollywood yang berhasil meraup pendapatan sebesar $71 juta di seluruh dunia dengan biaya produksi sekitar $6,4 juta saja. Aktor terkenal Hong Kong, Stephen Chow, direncanakan akan membintangi film remake-nya.

Bagi kamu yang belum nonton, nonton sekarang.

28 Maret 2013

Naik Sepeda Sembarangan Akan Di Penjara!

Tokyo secara resmi mengumumkan bahwa satuan kepolisian mereka akan menuntut para pengendara sepeda yang berulang kali melanggar hukum lalu lintas di kota terpadat di dunia tersebut. Jadi, kalau kita naik sepeda lalu menerobos lampu merah atau mungkin mengebut tidak karuan, maka kita bisa terkena hukuman penjara tiga bulan atau denda hingga 50.000 yen atau sekitar lima juta rupiah.

Naik Sepeda Sembarangan Akan Di Tilang!

"Jumlah kecelakaan sepeda telah mengalami peningkatan sebesar 13% jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu," kata Shinpei Kazusawa, seorang pengacara yang setuju dengan peraturan baru ini.

Sampai sekarang sebagian besar pengendara sepeda bisa menghindari bentuk hukuman yang berat. Biasanya mereka yang nakal hanya akan diberikan surat peringatan tanpa ada penangkapan. Pada tahun 2011 saja, terdapat lebih dari 2 juta surat peringatan yang keluar tanpa adanya tindak lanjutan. Sekarang di tahun 2013 ini, tampaknya para pengendara sepeda harus lebih berhati-hati.

24 Maret 2013

[Video] Sirkus Anjing